Bagaimana Caranya Menghindari Hydro Planning?

Wednesday, September 5th 2018. | Otomotif

Teknologi mobil dan ban boleh saja berkembang terus seiring berjalannya waktu. Berkendara malah akan kian aman dan nyaman dengan adanya kemajuan teknologi tersebut. Melainkan tidak seorangpun, atau teknologi apapun yang dapat melawan sifat alam.

Jika ini juga berlaku untuk berkendara karoseri ambulance. Hujan yang akan membasahi permukaan bumi membuat pengendara mesti ekstra hati-hati dan awas sebab trek yang licin, dan genangan ada dimana-mana. Teknologi ban mobil dan fitur tolong keselamatan berkendara, semaju apapun, tidak akan menjamin traksi tetap optimal di keadaan trek berair.

Jika seperti ini menuntut kelihaian dan ketenangan sang pengemudi, untuk menghindari terjadinya kecelakaan. Salah satu elemen penyumbang kecelakaan, lebih-lebih saat permukaan jalan berair atau licin ialah aquaplanning, atau lazim disebut juga dengan hydroplanning.

Gejala ini muncul saat ban tidak dapat memberikan cengkraman yang optimal dikarenakan ada sesuatu yang menghalangi tapak ban untuk ‘bertemu’ dengan pemukaan jalan. Air di permukaan jalan ialah sesuatu yang dapat mengkontribusikan hal tersebut.

Misalnya berkeinginan dianalogikan, seperti orang yang terpeleset saat berjalan di trek berair atau licin. Misalnya jatuh rasanya tidak nikmat, bukan?

Efek Hydroplanning

Pernah menikmati mobil Anda berlaku lain saat melintasi genangan di kecepatan tinggi? Melainkan kemudi yang terasa tiba-tiba kosong, menarik ke satu sisi, kecepatan tiba-tiba berkurang, atau malah hilang kendali sama sekali dan semuanya dapat berujung pada kecelakaan. Itulah yang disebut hydroplanning. Ban kehilangan traksi sebab melindas air dalam keadaan yang tidak tepat.

Semua jadi pertanyaan ialah, mengapa sebuah mobil brankar dapat mengalami kecelakaan sebab efek hydroplanning? Jawabannya simpel namun beraneka. Dari sisi mobil dapat jadi kecepatannya terlalu tinggi saat menempuh genangan air, sehingga tapak ban tidak mampu memecah air dengan optimal. Kedua, tapak ban memang sudah menipis atau tekanan angin tidak tepat, dan ketiga tanggapan yang tidak tepat dari sang pengemudi.

Melainkan yang terakhir ini ialah refleks alami seorang manusia saat mendeteksi sesuatu yang tidak beres dan berpotensi bahaya. Melainkan tanggapan yang berlebihan malah membuat keadaan makin kacau. Ingat, ini keadaan dimana ban sedang kehilangan kontak dengan permukaan jalan.

Siapa yang Bisa Berpotensi Terkena Hydroplanning?

Melainkan kendaraan. Selain ada beberapa hal yang utama. Pertama ialah muatan mobil. Saat berat akan kian membuat mobil tertekan ke bawah, dan ban dapat kontak dengan jalan secara optimal. Melainkan perhitungkan juga lebar ban, kian lebar, biasanya akan kian sulit untuk terkena efek tersebut.

Selain lebar ban saja belum cukup. Kecepatan mesti dijaga untuk tidak berubah secara tiba-tiba. itu, tapak ban mesti berada di keadaan yang masih normal. Semuanya akan percuma sekiranya ban plontos. Jika lainnya ialah, mobil yang berkendara dengan cruise control, akan lebih rentan terkena efek hydroplanning.

Cruise control, seperti yang kita kenal, berfungsi untuk menjaga kecepatan tetap stabil. dirasa kecepatan menurun atau akan bertambah, fitur ini akan menambah gas atau mengerem dengan sendirinya. Nah, saat terjadi hydroplanning, kecepatan akan menurun, dan komputer memerintahkan untuk berakselerasi secara otomatis. Efeknya? Ban makin kehilangan traksi.

Bagaimana Menghindari Hydroplanning?
Jaga kecepatan
Cek senantiasa keadaan ban, baik tekanan maupun keadaan tapaknya
Waspadai genangan air, sekecil apapun
Matikan cruise control saat cuaca hujan
memungkinkan, pada jalan satu arah yang mempunyai lebih dari satu lajur (jalan tol contohnya) hindari sisi jalan yang lebih rendah. Air akan berkumpul di spot terendah sebuah bidang.
Angkat kaki dari pedal gas saat terasa mobil menjadi aneh saat lewat genangan air
Jangan injak rem dengan keras, sebab dapat membuat ban kian kehilangan grip
Pegang kuat-kuat lingkar kemudi, dalam keadaan lurus. Jangan bermanuver saat hydroplanning.